Mengendalikan Lisan adalah Unsur Kebahagiaan

Salah satu unsur kebahagiaan seseorang, keluarga dan masyarakat adalah sejauh mana seseorang mampu mengendalikan lisan. Tutur kata yang benar dan baik akan menenteramkan. Tutur kata merupakan cermin integritas diri seseorang. Tutur kata yang benar, baik dan santun merupakan cerminan kemuliaan seseorang. Sebaliknya, tutur kata yang tidak keluar dari nurani dan emosional akan menimbulkan fitnah, gosip, ghibah, gesekan bahkan menjadi penyebab konflik dan meredupnya keharmonisan keluarga, masyakarat dan bangsa.

Kita sering mendengar berbagai macam komentar persoalan kehidupan, sesungguhnya persoalan itu kecil, mudah dan cepat diselesaikan dengan duduk bersama dan bicara gayem. Namun dg berbagai macam komentar tanpa batas, persoalan kecil menjadi besar dan rumit, persoalan penting menjadi angin lalu.

Memang orang yang di luar pagar atau di luar lapangan selalu cerdas, pandai melihat dan memberikan ulasan, pandangan, komentar dan mudah berkelit ketika tidak sesuai dengan fakta. Inilah dunia, inilah keterbukaan informasi, kita harus menata diri agar menjadi orang bijak sehingga tidak mudah terkejut, bingung dan membingungkan orang.

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah bertutur kata yang baik, kalau tidak bisa hendaklah diam" itu kata Nabi. Sesungguhnya beruntunglah orang- orang yg beriman, yaitu orang-orang yg khusyu' dalam sholat (QS.23:1-2)
وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
﴾ "dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna," (Q.S.23:3)

Wallahu a'lamu bish showab
 alfaqr-fadloli

Sumber: Group WhatsApp Kahmi UIN
Previous
Next Post »