Kemuliaan manusia terletak pada taqwa dan budi

Kemuliaan manusia terletak pada taqwa dan budi pekertinya, pada hati dan amalnya, pada iman dan amal shalehnya.
Manusia yang mulia   adalah manusia yang  bermakna, memberi arti dalam kehidupan,  yang memberi kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain.

Sisi lain dari itu,  ada wujud manusia yang paling remeh dan hina dalam kehidupan ini adalah yang hanya makan, minum dan tidur, tertipu dalam kesenangan bendawi. Waktu habis untuk memenuhi keinginan ragawi.

Sumber kemanfaatan dalam dirinya sudah tidak mengeluarkan air lagi, lembah kebaikannya telah kering, dan dia berhak untuk tidak dianggap lagi eksistensinya. Karena dia telah menghapus namanya dari daftar kehidupan, telah menghapus nomor urutannya dari papan pencatat karya dan pengorbanan.
Dia sama saja telah berada di alam kematian, hanya saja dia madih makan dan minum. Dia sama saja telah berada dalam kubur cuman bedanya, dia masih tertawa dan tidur.

إِنَّ ٱللَّهَ يُدْخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ ٱلْأَنْعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ ﴿١٢﴾

"Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia) dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka."(Q.S.47:12)

Wallahu a'lamu bish showab
alfaqr-fadloli
Previous
Next Post »